Kamis, 29 Maret 2012

DASAR PEMIKIRAN


Keterpurukan Ummat Islam saat ini dan bangsa Indonesia pada umumnya dalam berbagai bidang adalah karena jauhnya ummat Islam dari ajaran Islam itu sendiri. Sejarah Islam telah membuktikan bahwa ketika ummat dekat dengan pengamalan Al Qur’an, maka ummat ini  Allah angkat derajatnya seperti yang terjadi di jaman kehidupan Rasulullah dan para sahabat serta di jaman Umar bin Abdul Aziz, sampai – sampai kemakmuran dirasakan merata sehingga orang kesulitan mencari orang yang berhaq menerima zakat, padahal Umar bin Abdul Aziz memimpin ummat kurang dari dua tahun. Apa gerangan yang menjadikan faktor kunci sukses kepemimpinan beliau?. Ternyata ketika beliau diangkat menjadi khalifah, maka langkah pertama yang dilakukan adalah mengganti pejabat-pejabat yang sudah terjangkit penyakit materialistis dan korup dengan para penghafal Al Qur’an yang konon belum mahir dalam ilmu kepemerintahan. Dengan Al Qur’an mereka menata pemerintahan yang jujur, berkeadilan dan pengamalan Al Qur’an telah menginspirasi rakyat yang dipimpin mencontoh para pemimpinnya yang terdiri dari para penghafal Al Quran.

Pendidikan yang menggunakan 80% waktunya hanya untuk CALISTUNG dan ilmu kognitif dan mengukur kecerdasan dengan  nilai angkadan jauh dari Al Qur’an sebagai tuntunan Ilahiyyah yang syarat dengan penanaman nilai nilai luhur “the best values”
Pembekalan ketrampilan hidup sangat minim, sedangkan sarana sumber belajar  yang sangat terbatas ditambah dengan kurikulum yang terlalu padat orientasinya pada pengetahuan sedangkan pelajaran seni, olah tubuh, praktek lapangan dan kreatifitas sangat minim bahkan kurang dari 7%.

Kondisi pendidikan seperti itulah yang membuat anak kurang minat terhadap pelajaran di sekolah dan sulit berfikir mandiri, kurang rasa ingin tahu dan takut mencoba hal baru, karena suasana pembelajaran di kelas hanya teacher oriented, sehingga terjadi disteachia, learning shutdown dan pembunuhan / pengkerdilan fitrah anak.

Maka sangat urgen menghadirkan lembaga pendidikan yang mengedepankan materi Ilahiyah yaitu Al Qur’an yang otentik sepanjang masa, memiliki kebenaran mutlaq serta jaminan solusi atas semua permasalahan ummat berbangsa dan bernegara. Pendidikan Tahfidz  Al Qur’an dengan menciptakan pembelajaran yang segar, fun learning, integrated learning dengan berwawasan salaf dan modern dengan mengedepankan penanaman aqidah dan materi diniyah serta belajar dari keteladanan guru dalam kegiatan belajar mengajar sehari penuh ( Full Day School )

Ide dan Resiko

S D I T  /  T K I T  alam Qurani
sSalah satu ide / konsep yang muncul adalah membuat Sekolah Dasar  Tahfidz  Al Qur’an Anak-Anak  Ide tersebut didasarkan pada:


a.       Untuk mecetak kader dakwah yang mumpuni [kelas nasional / internasional], diperlukan persiapan yang matang. Yaitu lulus SD [12 tahun] sudah hafidz Qur’an 10 juz, lulus SMP [15 tahun]hafal qur’an 30 juz dan  menguasai bahasa Arab, lulus SMA [18 tahun] hafal 3.000 hadits Sahih Bukhori Muslim. Saat di universitas tinggal memperdalam ilmu fiqh / syariat.

b.      Untuk itu, sejak SD harus mendapatkan pendidikan Al Qur’an yang intensif supaya target 10  juz benar-benar dikuasai.

c.       Kemungkinan resikonya adalah secara umum sedikitnya jumlah orang tua yang  sadar pendidikan Qur’an sejak dini ditengah arus Globalisasi modern

d.      Risiko ini dapat dikurangi dengan adanya hasil survey lapangan bahwa banyak orang tua murid dan kader dakwah ingin menyekolahkan anaknya ke sekolah berbasis qur’an

e.      Full Day School anak belajar sehari penuh dari jam 07.30 s/d 16.00

f.        Menggunakan alam sebagai sarana dan media belajar siswa

g.       Anak tetap pulang pergi (tidak mukim) sehingga diharapkan banyak orang tua yang berminat karena anak masih bisa dekat antara anak dengan orang tuanya

h.      Analisa SWOT. 
 

Ide lainnya adalah:


1.       Kaderisasi pengajar Al Qur’an dengan membuka Pendidikan Tahfidz Al qur’an untuk remaja dengan bea siswa penuh  .

2.       Kemungkinan resikonya adalah besarnya biaya untuk program kaderisasi dengan menanggung biaya pendidikan dan bea hidup selama menghafal 30 Juz dengan target pembinaan  selama 3 tahun.

3.       Resiko ini dapat dikurangi dengan fenomena antusias yang dimiliki oleh beberapa relasi pengasuh yang respek terhadap pembinaan Al Qur’an .

4.       Resiko besarnya biaya pembinaan juga dapat ditekan dengan kesediaan teman-teman para Hafidz Al Qur’an yang siap menjadi pengajar dengan salary wajar UMR.

Rabu, 28 Maret 2012

TEORI DASAR YANG DIPAKAI


Sarana Belajar Dan Teori Pendidikan

Menggunakan alam sebagai media pembelajaran.
  1.       Memaknai setiap aktivitas pembelajaran dengan menguatkan niat ibadah kepada Allah SWT   (GAMBAR ANAK PIONEER SHOLAT AMBIL DI BROSURE).

  2.       Al-Qur’an sebagai pembuka segala ilmu dan sumber inspirasi dalam mendidik.

  3.       Pendidikan anak dalam islam berdasarkan 10 potensi kecerdasan.

  4.       Kurikulum kemasan khusus terintegratif dalam nilai-nilai islami.

  5.       Disiplin positif dan asertif (aturan umum yang harus diikuti anak, menjaga jangan sampai terjadi tingkah laku yang negative, disiplin reprentif bukan punishment, self discipline, conflict resolution, lebih banyak memberikan penghargaan dan memberikan kesempatan anak untuk mengubah tingkah lakunya dengan konsekuensi berdasarkan pilihan tingkah lakunya).

  6.       Class room management.

  7.       Brain based learning, quantum learning dan active learning. Pembelajaran seimbang antara pemahaman konsep dengan latihan, mementingkan rasa suka dan cinta sebelum anak-anak melakukannya dengan baik (membuka katup otaknya sebelum pembelajaran dimulai).

  8.       Meyakini bahwa setiap anak mempunyai keunikan yang khusus serta dapat dan berhak menjadi bintang karena potensi keunikannya yang dikembangkan.